.

Rock Climbing at Parangndog Beach Yogyakrta

.

Street of Pegunungan Kidul Dlingo Yogyakarta

.

Spent the afternoon at the Sepanjang Beach Yogyakarta

.

Chatting with beautiful beaches Sundak Yogyakarta

.

Nature in the Forest Hills Community Kalibiru Menoreh Kulonprogo Yogyakarta

readbud - get paid to read and rate articles

07 April 2011

Review - Film "?", Masih pentingkah kita berbeda?


Judul: ? (Tanda Tanya)

Genre: Drama Religi

Sutradara: Hanung Bramantyo

Produksi: Dapur Film Production

Pemain: Endhita, Revalina S. Temat, Reza Rahardian, Agus Kuncoro,
Glenn Fredly, Henky Solaiman, Rio Dewanto 


Apa kamu? Mau panggil aku murtad? Pergi!!!” Hardikan Rika mengusir Soleh dari perpustakaan. Tahun ini menjadi perjalanan hidup yang sulit bagi Rika. Janda beranak satu yang bercerai akibat kehadiran orang ketiga itu melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Ia menemukan Tuhan dalam persepsi berbeda dengan menanggalkan identitas muslimah dan menjadi penganut Katolik yang taat. Anaknya, Abi, tetap menjadi seorang muslim dengan protes-protes kecilnya.

Tak mudah pula bagi Soleh. Seorang kepala keluarga tapi belum bisa menjadi panutan karena menganggur. Ia makin merasa malu karena istrinya, Menuk, yang selama ini membiayainya, justru makin patuh kepadanya. “Ceraikan saja aku, Nuk. Kamu pantas dapat yang lebih baik,” ujarnya membentak di depan restoran tempat Menuk mengais nafkah. 

Seperti Soleh, yang berpolemik dengan harga dirinya, Tan Kat Sun tengah berjuang melawan sakit parah. Ia bangkit dari kasur, lalu melepas semua alat bantu medis. “Sudah cukup! Aku mau sembuh,” katanya kepada sang istri. “Perang dingin” dengan anak satu-satunya, Ping Hen atawa Hendra, menjadi penyumbang terbesar penyakit yang diderita bos Menuk itu. Baik Rika, Soleh, Tan Kat Sun, maupun Menuk memiliki persoalan tersendiri. Dari latar agama berbeda, kisah hidup mereka menjadi sebuah refleksi kehidupan beragama di negeri ini. Potret kehidupan bermasyarakat itu dikemas dengan apik dalam medium film oleh Hanung Bramantyo dalam film bertajuk Tanda Tanya. 

“Saya tidak bisa mendapatkan judul terbaik selain Tanda Tanya,” ujar Hanung tentang judul yang dipilihnya. Film produksi ketiga Dapur Film Production—setelah Queen Bee dan Menebus Impian—bekerja sama dengan Mahaka Entertainment ini menyuguhkan akting Endhita, Agus Kuncoro, Reza Rahardian, Revalina S. Temat, dan Henky Solaiman. Kehadiran Surya, aktor figuran film yang kariernya mandek, memberi warna di tengah kehidupan Rika. Sikap Surya yang lebih toleran atas keputusan Rika menjadikan keduanya kian akrab. Tatkala rezeki Surya mengering, Rika menawarinya peran utama pada pementasan Natal di gereja. Angin surga yang awalnya bertiup lalu kencang menampar. Surya harus berperan sebagai Yesus yang disalib. Sebagai muslim taat, pantaslah bila Surya galau. 

Begitu pula pernikahan Soleh-Menuk yang dilandasi keimanan kental. Niat saklek Soleh menjadi suami terhormat mengantarnya menjadi seorang anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU). Namun hal itu belum cukup. Kehadiran Hendra, mantan kekasih yang juga majikan Menuk, masih terus membayanginya. Berbeda dengan ayahnya yang sangat menghormati Islam, Hendra justru menyimpan dendam terhadap agama itu setelah percintaannya dengan Menuk kandas karena perbedaan agama. Setelah berjibaku dengan Perempuan Berkalung Sorban, Hanung kembali menebar “jaring” lewat film terbarunya ini. Guna meloloskan filmnya dari kejamnya gunting sensor, ia bergelut dengan argumentasi. Adegan yang menggambarkan kepala babi di dapur restoran memang terkena gunting sensor. 

Namun Hanung berhasil menyelamatkan umpatan kata “Cina” dalam dialog Soleh. Juga sejumlah adegan, seperti Sinterklas yang menangis di jalanan, Soleh masuk gereja, dan Soleh sebagai anggota Banser yang memutuskan berjihad dengan membawa bom. “Bagian bom diprotes karena dianggap tidak masuk akal, mengingat bom seharusnya tidak ditangani oleh Banser,” kata Hanung. Namun Hanung berkukuh karena, dalam film, sebelumnya dikisahkan tentang kemelut di hati Soleh. Setelah merapat ke Muhammadiyah dalam proyek Sang Pencerah, kini Hanung melirik Nahdlatul Ulama lewat kisah anggota Banser. 

Trailer Film "?" (Tanda Tanya)

 

Kisah nyata ini didapatkan Hanung dari Riyanto (almarhum), yang merupakan anggota Banser Mojokerto. Riyanto meninggal dalam tragedi bom Natal sekitar tiga tahun lalu. Nama Riyanto dikukuhkan dalam “Beasiswa Riyanto” di Wahid Institute. Tokoh Rika dan Surya juga bukan rekaan. “Kisah Rika dialami kerabat saya dan kisah Surya diilhami oleh figuran film Sang Pencerah bernama Dombleh,” kata Hanung. Hanung enggan menitikberatkan karyanya condong ke organisasi massa tertentu. 

Namun dia mengakui isu tentang Islam saat ini kian “seksi” di matanya. “Apalagi soal keragaman agama yang memang saya alami sendiri di keluarga, berhubung ibu saya seorang mualaf,” ujar sutradara berdarah Cina-Jawa itu. Sebelumnya, kisah perbedaan agama pernah diembuskan film 3 Hati 2 Cinta 1 Dunia karya Benni Setiawan. Jika keduanya disandingkan, eksekusi film Hanung jelas lebih lantang ketimbang drama percintaan Rosid-Delila itu. []

05 Oktober 2010

PANCASILA? Karena Keadilan Sosial Mendesak Diwujudkan

Pancasila lahir sebagai respons terhadap kondisi struktur sosio-ekonomi yang bercorak kolonial. Lahirnya Pancasila itu mempunyai harapan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yaitu terwujudnya keadilan dan kesejahteraan sosial. Pancasila menjadi kekuatan untuk melakukan restrukturalisasi sosio-ekonomi Indonesia, yaitu tindakan koreksi secara radikal terhadap struktur berwatak kolonial untuk kemudian membangun struktur yang berwatak nasional. 

Demikian tafsir yang dipahami Presiden Mahasiswa (Presma) Univesitas Muhamadiyah Surakarta (UMS), Danang Prastya, saat ditemui Espos, Selasa (28/9). Lebih lanjut Danang yang bukan tergolong generasi yang akrab dengan penataran P4 itu menjelaskan, keadilan dan kesejahteraan sosial sangat mendesak diwujudkan. Kalau bisa, saat ini juga. Namun hal itu, diakuinya sulit terwujud karena produk regulasi pemerintah tidak memihak kepada rakyat. 
 
Tidak dilakukannya revisi UU No 7/1996 tentang Pangan lalu disebutnya sebagai misal. “UU tersebut tidak lagi menjadikan pangan sebagi hak dasar, melainkan sebagai komoditas perdagangan,” tukasnya. Selain UU tentang Pangan, menurut Danang masih ada sederet produk hukum yang kurang memihak rakyat. Di antaranya, dia menyebutkan contoh lain, UU tentang Penanaman Modal, UU Migas dan lain sebagainya. 


Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Bery Nur Arif menyoroti hal lain. Menurut dia, pemerintah seharusnya melakukan optimalisasi APBN/D yang dialokasikan untuk pendidikan guna membuka akses belajar masyarakat yang kurang mampu. “Kebijakan di Jakarta yang menggratiskan (biaya pendidikan untuk) siswa SD dan SLTP cukup mampu mengikis kebodohan administratif,” terangnya. 

Selain pendidikan, menurut Bery, sektor perekonomian juga harus menjadi perhatian pemerintah. UMKM harus didobrak inisiasinya agar produktivitasnya meningkat. “Dalam semangat Pancasila, seharusnya pemerintah juga memajukan koperasi-koperasi yang sudah ada,” pungkasnya. 

Anggota Komisi IV DPRD Kota Solo, Reny Widyawati SE juga mengakui, dalam hal kesejahteraan dan keadilan sosial, pemerintah mempunyai tugas yang belum terselesaikan. “Khususnya dalam hal pemberian kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk bisa mendapatkan pendidikan dan kesempatan bekerja,” tegasnya. Selain itu, dalam hal pengembangan usaha, pemerintah masih mempunyai tugas membuka kesempatan bagi masyarakat yang belum beruntung dalam ekonomi untuk memperoleh kemudahan dalam fasilitas pembiayaan berwirausaha. 

Dimuat di SKH SOLOPOS, edisi Senin, 04 Oktober 2010 , Hal.5