.

Rock Climbing at Parangndog Beach Yogyakrta

.

Street of Pegunungan Kidul Dlingo Yogyakarta

.

Spent the afternoon at the Sepanjang Beach Yogyakarta

.

Chatting with beautiful beaches Sundak Yogyakarta

.

Nature in the Forest Hills Community Kalibiru Menoreh Kulonprogo Yogyakarta

readbud - get paid to read and rate articles
Tampilkan postingan dengan label WACANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WACANA. Tampilkan semua postingan

12 Desember 2011

Sampai Kapan Idealisme Akan Bertahan?

Ketika menjadi mahasiswa, banyak dari kita yang tak segan-segan bersuara lantang terhadap siapa saja yang melakukan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), dengan turun ke jalan, meneriakkan yel-yel anti-KKN, mengusung perjuangan rakyat, dan membela kebenaran. Kemudian membentuk kelompok anti-KKN bersama aktivis-aktivis lainnya agar barisan perjuangan semakin kuat. Mengatasnamakan rakyat sebagai korban KKN dan mengedepankan reformasi sebagai arah perjuangan bagi perubahan secara total agar visi dan misi sebagai agent of change terwujud. 

Namun, seiring dengan perkembangan gerakan dan perjuangan mahasiswa sekarang, apakah sudah terwujud perjuangan itu secara total? Lengsernya Soeharto dari jabatan presiden pada Mei 1998, bukan akhir gerakan mahasiswa, karena penyakit KKN kini bukan hanya dilingkungan pemerintah saja tapi sudah menjadi budaya sebagian masyarakat kita di mana pun. Praktik korupsi di lingkungan Pemda dan DPRD juga di instansi lain yang akhir-akhir ini menjadi berita di sebagian besar koran dan majalah adalah potret buram wakil rakyat kita. 

Lalu, bagaimana gambaran di atas bila dihubungkan dengan banyaknya jumlah pendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) beberapa waktu lalu? Banyak lulusan perguruan tinggi memimpikan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan alasan akan mendapat kehidupan yang lebih baik. Setiap bulan menerima gaji, kerja dengan duduk santai dan irama kehidupan semakin terarah. Padahal menjadi PNS di lingkungan pemeritahan pusat dan daerah sangat rawan KKN. Lalu, di manakah idealisme mereka, yang ketika menjadi mahasiswa (aktivis) kritis terhadap pemerintah? Mereka dulu mengkritk habis-habisan dengan demo turun ke jalan atau lewat media dan tulisan, dengan tujuan utama pemberantasan KKN. 

Idealisme, menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Kata patokan yang dianggap sempurna bisa kita kaji lebih dalam lagi. Patokan tersebut harus sesuai dengan perkembangan zaman. Ketika waktu kuliah, melihat sosok PNS yang kerjanya hanya duduk santai sambil ngobrol ngalor ngidul adalah sesuatu hal yang menjengkelkan. Namun bagaimana bila realita menakdirkan mahasiswa tersebut menjadi PNS. Motivasi sebagian besar lulusan perguruan tinggi mengikuti pendaftaran CPNS bukan sekedar coba-coba, tapi karena kebutuhan. Mereka tidak lagi memikirkan idealisme saat kuliah, atau gambaran umum buruknya birokrasi di pemerintahan pusat dan daerah yang rawan praktik KKN, atau bayangan akan dikritk dan didemo oleh adik-adik mereka yang masih duduk di bangku kuliah. Yang ada dalam benak, sedapat mungkin lulus ujian CPNS dan siap menjadi seorang PNS dengan harapan hidup terjamin. 

Melacurkan Idealisme 

Sebagai mahasiswa, kita semua sudah mengetahui akan adanya jalur khusus, sebuah terobosan baru untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) tanpa ada hambatan akademis, yang penting punya uang. Dampak yang terjadi di masyarakat, muncul pandangan bahwa dengan banyak uang keinginan apa saja bisa terwujud. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah kaum birokrat kampus juga melacurkan idealisme ketika kebutuhan untuk pengembangan pendidikan begitu mendesak karena subsidi dari pemerintah sudah tidak bisa diandalkan lagi? Sudah sangat jelas perbedaan pengertian idealisme menurut hati nurani dengan yang terjadi di masyarakat atau realita yang sebenarnya. Melacurkan idealisme untuk menjadi PNS bukanlah hal yang salah untuk dilakukan. Kata "lacur" di sini konteksnya bukan menjual idealisme, tapi memanfaatkan idealisme. 

Memanfaatkan sesuatu yang ada tanpa menjual yang ada, berusaha menjadikan yang ada sebagai kesempatan yang harus diambil. Ketika kita dihadapkan pada kebutuhan dan realita yang terjadi di masyarakat serta pertimbangan ekonomi, maka melacurkan idealisme adalah hal yang dianggap sah. Begitu juga dengan birokrat kampus, ketika dibutuhkan pembangunan gedung-gedung kuliah serta fasilitas belajar mengajar, maka kemana lagi mereka harus mencari selain memanfaatkan orang kaya untuk menyisihkan sebagian harta bagi kegiatan pendidikan. Idealisme memang penting bagi kehidupan semua orang. Prinsip dan pedoman serta arah kehidupan seseorang, yang terangkum dalam sebuah kata "idealisme" sangat beragam makna. Hal ini bukan berarti terjadi peregeseran makna idealisme, namun yang terjadi adalah bagaimana kita memaknai kata idealisme sesuai dengan keinginan. Tidak selamanya orang mempunyai idealisme dengan satu pengertian. Maksudnya, ketika pilihan menjadi pilihan utama, di situlah idealisme harus bergerak dan berubah sesuai dengan kebutuhan. []

07 April 2011

Review - Film "?", Masih pentingkah kita berbeda?


Judul: ? (Tanda Tanya)

Genre: Drama Religi

Sutradara: Hanung Bramantyo

Produksi: Dapur Film Production

Pemain: Endhita, Revalina S. Temat, Reza Rahardian, Agus Kuncoro,
Glenn Fredly, Henky Solaiman, Rio Dewanto 


Apa kamu? Mau panggil aku murtad? Pergi!!!” Hardikan Rika mengusir Soleh dari perpustakaan. Tahun ini menjadi perjalanan hidup yang sulit bagi Rika. Janda beranak satu yang bercerai akibat kehadiran orang ketiga itu melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Ia menemukan Tuhan dalam persepsi berbeda dengan menanggalkan identitas muslimah dan menjadi penganut Katolik yang taat. Anaknya, Abi, tetap menjadi seorang muslim dengan protes-protes kecilnya.

Tak mudah pula bagi Soleh. Seorang kepala keluarga tapi belum bisa menjadi panutan karena menganggur. Ia makin merasa malu karena istrinya, Menuk, yang selama ini membiayainya, justru makin patuh kepadanya. “Ceraikan saja aku, Nuk. Kamu pantas dapat yang lebih baik,” ujarnya membentak di depan restoran tempat Menuk mengais nafkah. 

Seperti Soleh, yang berpolemik dengan harga dirinya, Tan Kat Sun tengah berjuang melawan sakit parah. Ia bangkit dari kasur, lalu melepas semua alat bantu medis. “Sudah cukup! Aku mau sembuh,” katanya kepada sang istri. “Perang dingin” dengan anak satu-satunya, Ping Hen atawa Hendra, menjadi penyumbang terbesar penyakit yang diderita bos Menuk itu. Baik Rika, Soleh, Tan Kat Sun, maupun Menuk memiliki persoalan tersendiri. Dari latar agama berbeda, kisah hidup mereka menjadi sebuah refleksi kehidupan beragama di negeri ini. Potret kehidupan bermasyarakat itu dikemas dengan apik dalam medium film oleh Hanung Bramantyo dalam film bertajuk Tanda Tanya. 

“Saya tidak bisa mendapatkan judul terbaik selain Tanda Tanya,” ujar Hanung tentang judul yang dipilihnya. Film produksi ketiga Dapur Film Production—setelah Queen Bee dan Menebus Impian—bekerja sama dengan Mahaka Entertainment ini menyuguhkan akting Endhita, Agus Kuncoro, Reza Rahardian, Revalina S. Temat, dan Henky Solaiman. Kehadiran Surya, aktor figuran film yang kariernya mandek, memberi warna di tengah kehidupan Rika. Sikap Surya yang lebih toleran atas keputusan Rika menjadikan keduanya kian akrab. Tatkala rezeki Surya mengering, Rika menawarinya peran utama pada pementasan Natal di gereja. Angin surga yang awalnya bertiup lalu kencang menampar. Surya harus berperan sebagai Yesus yang disalib. Sebagai muslim taat, pantaslah bila Surya galau. 

Begitu pula pernikahan Soleh-Menuk yang dilandasi keimanan kental. Niat saklek Soleh menjadi suami terhormat mengantarnya menjadi seorang anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU). Namun hal itu belum cukup. Kehadiran Hendra, mantan kekasih yang juga majikan Menuk, masih terus membayanginya. Berbeda dengan ayahnya yang sangat menghormati Islam, Hendra justru menyimpan dendam terhadap agama itu setelah percintaannya dengan Menuk kandas karena perbedaan agama. Setelah berjibaku dengan Perempuan Berkalung Sorban, Hanung kembali menebar “jaring” lewat film terbarunya ini. Guna meloloskan filmnya dari kejamnya gunting sensor, ia bergelut dengan argumentasi. Adegan yang menggambarkan kepala babi di dapur restoran memang terkena gunting sensor. 

Namun Hanung berhasil menyelamatkan umpatan kata “Cina” dalam dialog Soleh. Juga sejumlah adegan, seperti Sinterklas yang menangis di jalanan, Soleh masuk gereja, dan Soleh sebagai anggota Banser yang memutuskan berjihad dengan membawa bom. “Bagian bom diprotes karena dianggap tidak masuk akal, mengingat bom seharusnya tidak ditangani oleh Banser,” kata Hanung. Namun Hanung berkukuh karena, dalam film, sebelumnya dikisahkan tentang kemelut di hati Soleh. Setelah merapat ke Muhammadiyah dalam proyek Sang Pencerah, kini Hanung melirik Nahdlatul Ulama lewat kisah anggota Banser. 

Trailer Film "?" (Tanda Tanya)

 

Kisah nyata ini didapatkan Hanung dari Riyanto (almarhum), yang merupakan anggota Banser Mojokerto. Riyanto meninggal dalam tragedi bom Natal sekitar tiga tahun lalu. Nama Riyanto dikukuhkan dalam “Beasiswa Riyanto” di Wahid Institute. Tokoh Rika dan Surya juga bukan rekaan. “Kisah Rika dialami kerabat saya dan kisah Surya diilhami oleh figuran film Sang Pencerah bernama Dombleh,” kata Hanung. Hanung enggan menitikberatkan karyanya condong ke organisasi massa tertentu. 

Namun dia mengakui isu tentang Islam saat ini kian “seksi” di matanya. “Apalagi soal keragaman agama yang memang saya alami sendiri di keluarga, berhubung ibu saya seorang mualaf,” ujar sutradara berdarah Cina-Jawa itu. Sebelumnya, kisah perbedaan agama pernah diembuskan film 3 Hati 2 Cinta 1 Dunia karya Benni Setiawan. Jika keduanya disandingkan, eksekusi film Hanung jelas lebih lantang ketimbang drama percintaan Rosid-Delila itu. []

05 Juni 2010

PESANTREN DAN TERORISME

“Keberhasilan Polri menangkap bahkan menembak para gembong teroris bukan berarti ancaman teroris sudah tidak ada. Bahkan teroris diyakini masih mengintai sasaran di Indonesia”, demikian laporan LampugPost (4/6) mengutip ungkapan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang, beberapa waktu lalu. 

Terorisme belum beranjak dari negeri ini, begitu kira-kira maksud lansiran berita di atas. Beberapa indikasi pelaku bom bunuh diri sampai saat ini sering mengarah pada pemain lama, yaitu jaringan Noordin M. Top. Kelompok ini adalah orang-orang yang percaya bahwa bom bunuh diri merupakan bagian dari jihad fi sabilillah dan pelakunya adalah mati syahid. Jika memperhatikan latar belakang para pelaku bom bunuh diri selama ini, kita akan tahu bahwa sebagian besar pelakunya adalah alumni pondok pesantren. Mereka bisa mengaji dan sedikit menafsirkan kitab suci. 

Bagaimana kita meletakkan pelaku bom bunuh diri dengan ajaran keislaman yang mereka pedomani? Adakah doktrin pesantren turut memberikan kontribusi terhadap semarak kekerasan berbasis keislaman di Indonesia sekarang? 

Model pesantren di Indonesia  

Publik perlu tahu bahwa pesantren tak berwajah tunggal. Sekurangnya ada dua tipologi pesantren jika dilihat dari gerakan dan tafsir keislaman yang dikembangkannya. Pertama, pesantren yang mengajarkan pentingnya merawat harmoni sosial dan toleransi antar-umat beragama. Dari sudut politik, pesantren ini tak punya agenda politik “menyimpang”. Mereka tak hendak mendirikan negara Islam apalagi Khilafah Islamiyah seperti yang kerap diperjuangkan kelompok-kelompok Islam lain. Para kiai dan santrinya sepakat bahwa Indonesia dengan Pancasila dan UUD 1945 telah memberi jaminan dan kebebasan bagi umat Islam Indonesia untuk menjalankan ajaran Islam, sehingga tak diperlukan lagi bentuk formal negara Islam. Saya berpandangan, secara sosio-politik tak ada yang perlu dikhawatirkan dari pesantren jenis pertama ini. 

Kedua, ada pesantren yang menggendong ideologi politik Timur Tengah, seperti Wahabisme, Ikhwanul Muslimin, Talibanisme, dan lain-lain. Tak sedikit dari pesantren ini yang memakai jalan-jalan kekerasan dalam menjalankan ajaran Islam. Para kiai pesantren ini banyak menyuarakan jihad. Secara politik, para kiai pesantren ini menolak Pancasila dan demokrasi. Mereka berjuang bagi tegaknya sebuah negara yang berdasarkan syari`at Islam; al-Qur’an dan Hadits. Mereka berpandangan bahwa pilihan terhadap NKRI, Pancasila, dan UUD 1945 merupakan pilihan yang keliru ketika jumlah umat Islam di Indonesia lebih dari 85 %. Sebagai gantinya, maka perlu diperjuangkan berdirinya sebuah negara Islam. 

Langkah yang perlu di lakukan 

Saya berpandangan, eksistensi NKRI turut di tentukan oleh dua model pesantren ini. Sebelum semuanya terlambat ada beberapa hal yang bias dilakukan. Pertama, ada gunanya pendidikan kewarga-negaraan diintensifkan ke dalam pesantren tipe kedua sehingga para kiai dan santrinya bisa memahami dan mengakui fakta politik Indonesia sebagai negara Pancasila dan bukan negara Islam. Mereka bisa berjuang dalam orbit negara bangsa Indonesia bukan di luar itu. 

Sementara terhadap pesantren jenis pertama, pemerintah perlu memberikan dukungan, baik moral maupun material. Secara material, sering ada keluhan keterbatasan sarana-prasarana dari pihak pesantren tipe pertama sehingga mereka tak bisa melakukan proses pembelajaran secara maksimal. Dengan fasilitas, dana, jaringan yang terbatas, beberapa pesantren jenis pertama mulai meredup bahkan ada yang sudah gulung tikar. 

Sedangkan pesantren jenis kedua, dengan jaringan luas dan cadangan dana yang besar, terus berkembang. Kedua, perlu dilakukan dialog antara pesantren jenis pertama dengan pesantren jenis kedua. Organisasi keislaman seperti NU, Muhammadiyah, dan MUI bisa menjadi mediator dan fasilitator dari dialog itu. Tukar menukar tafsir keislaman dan pengalaman hidup masing-masing diharapkan bisa membangun kesadaran tentang tak sempurnanya sebuah tafsir dan betapa banyak kerugian yang mesti ditanggung umat Islam ketika salah satu dari mereka menempuh jalan kekerasan dalam berislam. []

27 Agustus 2009

Mengkaji Metodologi Dakwah Mutakhir

Judul : Fiqhud-Dakwah

Penulis : M. Natsir

Penerbit : DDII Jakarta

Cetakan : Keempat, 1987

Tebal : 295 halaman


Mengapa perkembangan “tradisi” berdakwah akhir-akhir ini,tumbuh subur di banyak media di tanah air? Sudah sesuaikah para “Da’i” dengan apa yang di tuntunkan dalam Islam? Apa saja hal yang perlu diketahui, bila seseorang mau berdakwah? 

Berangkat dari sebuah kegelisahan yang timbul setelah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia “Dakwah”, sebagai seorang “Mubaligh”, penyusun buku ini, yang tak lain adalah “murid” penulis sendiri, menyusun kembali diktat-diktat dan catatan-catatan lama hasil perkuliahan dengan penulis. Penyusun merasakan, betapa kegiatan berdakwah bukanlah hal yang mudah. Banyak kendala dan rintangan yang pasti akan datang secara bertubi-tubi. Untuk itu, penyusun menghimbau kepada para pembawa “Risalah suci” dengan berdakwah, untuk menyiapkan bekal “mental” dan “intelektual”. Untuk itulah, pendekatan diri (taqarub) kepada Allah adalah suatu keniscayaan, mengingat Dia-lah pemilik Risalah ini. 

Selanjutnya, dalam buku ini, penulis, melalui tangan penyusun, ingin mengajak kita untuk lebih memahami dan akhirnya mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip dasar berdakwah. Itu bisa dibaca, dari susunan letak materi yang di sampaikan. Pada bagian pertama, berisi penjelasan mengenai posisi dakwah dalam Islam, fungsi dakwah, dan tahapan-tahapan berdakwah. Selanjutnya di bagian kedua, berisi dasar kewajiban berdakwah, metode dan akhlaq berdakwah, dan di tutup dengan surat-surat Rasulullah SAW untuk para penguasa pada waktu itu. 

Namun yang juga perlu di tambahkan di sini, bahwa ada tiga sumber utama dalam berdakwah; yaitu, Al-Qur’an. Jejak Risalah, dan Khittah para Sahabat. Dapat kita simpulkan, buku ini berisi “suplemen” dakwah yang harus di serap oleh para Mubaligh. Selain harus juga secara terus menerus mengembangkannya seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Wallahu a’lam…

17 Agustus 2009

Studi Agama, Normativitas atau Historisitas?

Judul Buku : Studi Agama, Normativitas atau Historisitas?

Penulis : Dr. M. Amin Abdullah

Penerbit : Pustaka Pelajar

Cetakan : Empat, Mei 2004

Tebal : 348 Halaman


Dapatkah "fenomena" keberagamaan manusia tidak hanya dilihat dari perspektif "normativitas" an sich? Bisakah ”historisitas" pemahaman atau interpretasi masing-masing umat juga di akui dalam pola hidup beragama? Bisakah keduanya dikompromikan, sehingga pada tahapan selanjutnya bisa menjadi "formula" yang tepat bagi tercapainya kebaikan pelaksanaan pola hidup beragama? 

Dalam buku ini, penulis menegaskan dua buah perspektif diatas sama-sama mempunyai potensi untuk itu. Meskipun pada umumnya normatifitas (ajaran wahyu) di bangun, di telaah dan dibakukan lewat pendekatan doktrinal-teologis, sedang historisitas keberagamaan manuasia melalui berbagai sudut pendekatan keilmuan sosial-keagamaan yang bersifat multi dan interdisipliner, baik lewat pendekatan historis, filosofis, psikologis, sosiologis, kultural maupun antropologis. Pendekatan dan pemahaman terhadap fenomena keberagamaan bercorak normatif dan historis tidak selamanya "akur" dan seirama. Hubungan antara keduanya sering di warnai ketegangan, baik yang bersifat kreatif maupun destruktif. 

Pendekatan yang pertama, lantaran berangkat dari yang sudah tertulis dalam Kitab suci masing-masing agama, (dalam batas-batas tertentu) adalah bercorak literalis, tekstuelis atau skripturalis. Pendekatan yang kedua, di tuduh oleh yang pertama sebagai pendekatan dan pemahaman yang bersifat "reduksionis", yakni pemahaman keagamaan yang hanya terbatas pada aspek eksternal-lahiriah dan kurang begitu memahami dan menyelami aspek batiniyah-eksoteris serta makna terdalam dan moralitas yang dikandung oleh ajaran-ajaran agama itu sendiri. Sedang pendekatan yang kedua, yang lebih bersifat historis balik menuduh corak pendekatan yang pertama sebagai jenis pendekatan yang cenderung bersifat absolutis, lantaran para pendukung pendekatan pertama ini cenderung mengabsolutkan teks yang sudah tertulis, tanpa berusaha memahami apa yang sesungguhnya melatar belakangi berbagai teks keagamaan yang ada. 

Meminjam istilah teknis ilmu-ilmu agama Islam, pendekatan yang kedua ingin menggaris bawahi pentingnya telaah mendalam tentang asbaab al-nuzul, baik yang bersifat kultural, psikologis maupun sosiologis. Lebih jauh, penulis mengibaratkan hubungan keduanya ibarat dua sisi mata uang. Hubungan antara permukaan koin tidak dapat dipisahkan, tetapi secara tegas dapat di bedakan. Buku ini terbagi menjadi empat bagian; Bagian pertama, secara telegrafik menjelaskan cikal bakal kontroversi perebutan klaim validitas dan otoritas keilmuan agama di belahan dunia barat dan bagaimana pula bentuk pergumulan ersebut dalam duskursus keagamaan di tanah air. Bagian kedua, mencoba mulai menyentuh wilayah studi keislaman dengan menerapkan cara pandang filsafat keilmuan kontemporer yang berkembang pada paruh kedua abad kedua puluh ini. Meskipun belum secara detail dan tuntas, bab ini mencoba memetakan sebagian persoalan-persoalan keilmuan agama Islam yang terkait dengan diskursus ilmu kalam, studi tafsir, tasawuf dan pluralitas serta study keislaman pada umumnya. Bagian ketiga, secara eksplisit mengharapkan munculnya disiplin dan telaah studi kawasan tentang masyarakat muslim dimanapun mereka berada. 

Permasalahan masyarakat muslim di Turki di angkat, sekedar sebagai salah satu contoh yang menarik untuk di teruskan lebih lanjut ke Iran, Pakistan, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Eropa Amerika dan begitu seterusnya. Dengan ungkapan lain, pendekatan yang bersifat normatif pada level high tradition perlu di lengkapi dengan pendekatan pada level low tradition yang terungkap dari model pendekatan historis, sosiologis, antropologis, kultural terhadap masyarakat muslim yang ada. Bagian keempat, mengilustrasikan perlunya pendekatan filosofis terhadap pemikiran keagamaan pada umumnya. Seperti di ketahui bahwa diskursus filsafat pernah berkembang pesat dalam dunia peradaban Muslim klasik, tetapi pada abad-abad berikutnya orang kurang begitu peduli lagi terhadap disiplin filsafat. Khasanah intelektual dan kefilsafatan Muslim klasik perlu di apresiasi kembali dan sekaligus di bahasakan ulang dengan model cara berfikir kefilsafatan kontemporer.

07 Juli 2009

SUNNAH, Menurut Saya...

Saudaraku sekalian… 

Ada yang mengganjal di hati saya, ketika memperhatikan gerakan Islamisasi di Indonesia akhir-akhir ini. Menurut saya bukan Islamisasi lagi yang di gencarkan _oleh beberapa kelompok, tapi Arabisasi. Banyak kelompok-kelompok yang berusaha tampil dengan citra islami, dengan berpakaian, berlagak, berbicara ala arab. Ketika mereka ditanya, mengapa seperti itu? Jawabannya dapat segera kita tebak bahwa mereka ingin bersunnah ria. 

Dari beberapa literatur yang saya baca, saya menyimpulkan bahwa Sunnah Rasulullah adalah “semangat/pesan moral” yang secara implisit bisa kita temukan dalam setiap sikap yang di ambil oleh beliau. Sikap ini meliputi beberapa aspek, tapi dalam kesempatan kali ini saya akan memaparkan dua diantaranya yaitu sikap beliau dalam berbusana dan berbudaya. 

Sikap Rasulullah dalam berbusana 

Banyak diantara kita yang memahami bahwa berpakaian gamis, bersorban, celana cungklang diatas matakaki adalah Sunnah. Tapi tidak, menurut saya. Sunnah Rasulullah dalam berpakaian adalah kesederhanaan yang di tampilkan beliau dalam berpakaian. Kalau kita pernah belajar Hadits, kita akan menjumpai sebuah Hadits yang menyatakan bahwa orang yang berpakaian sampai dibawah mata kaki adalah orang yang takabur. Kita buka lagi sejarah dimana Rasulullah masih hidup. Waktu itu pakaian adalah simbol kebanggaan dan kesombongan. Orang-orang kaya gemar memakai pakaian (jubah) yang panjangnya melebihi mata kaki, sampai-sampai jubah tersebut terseret ketika mereka berjalan. Inilah yang dimaksud Hadits Rasulullah tersebut, orang-orang seperti inilah yang di cap sebagai takabur. Jadi, tolak-ukur Sunnah dalam hal ini bukan pada model pakaian/busana (harus cungklang, dll), tapi lebih pada standar kesederhanaan dan kepantasan pakaian itu sendiri diukur dari budaya masyarakat setempat. 

Sikap Rasulullah dalam berbudaya 

Jika kita menggunakan kacamata antropologis-sosiologis, kita akan mendapati sosok panutan kita ini adalah sosok yang sangat inklusif terhadap budaya. Sebagian dapat kita ambil contoh, beberapa praktek ibadah kita adalah bentuk rekonstruksi dari budaya-budaya arab klasik. Mungkin kita bertanya, mengapa beliau melakukan hal ini? Jawabannya adalah : karena dengan mengambil bentuk ritual lama dan mengganti esensi, suatu ajaran dapat mudah dicerna dan diterima umat. 

Diantaranya adalah praktek dalam pelaksanaan shalat. Perlu kita ketahui, bahwa sholat yang bagi kita umat muslim merupakan tiang agama, sebelum islam turun, adalah merupakan salah satu bentuk ritual umat kristen ortodok. Rasulullah datang dengan syari’at baru, maka diambilah bentuk ritual itu, mengganti esensinya, dan melakukan modifikasi dari gerakan-gerakan dalam shalat tersebut. 


Kedua, pelaksanaan ibadah haji, terutama thawaf. Kita tahu bahwa pelaksanaan ibadah haji sudah disyari’atkan sejak masa Khalilullah Ibrahim AS. Selama masa fatrah, banyak penyimpangan yang dilakukan ummat dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Bahkan, kalau kita baca sejarah, sempat terjadi ritual ber-bugil ria di sekitar ka’bah. Rasulullah datang dengan syari’at baru, maka beliau meluruskan praktek-praktek tersebut. 

Ketiga, berkenaan nama dengan Tuhan. Pada masa pra Islam, negeri arab telah mengenal dan mempercayai adanya dewa-dewa penguasa jagat raya. Allah adalah nama dari dewa yang dianggap paling berkuasa diantara dewa-dewa lain pada waktu itu. Rasulullah datang membawa syari’at baru, demi mempermudah da’wah, maka beliau mengakomodir nama tersebut sebagai nama Tuhan bagi kita ummat muslim. 

Sampai disini dapat saya simpulkan bahwa mengakomodir budaya tidak selamanya jelek, bid’ah. Gusti Kanjeng Nabi saja juga melakukan kok. Mengakomodir budaya sama halnya kita bangga dan bersyukur akan identitas kita sebagai bangsa yang secara fitrah telah diciptakan berbeda satu sama lain oleh Gusti Allah. Analogi pada sebuah pohon, budaya laksana akar tunggang yang menghujam ketanah. Semakin dalam akar tersebut menghujam, maka semakin kokoh pulalah pohon tersebut. []