.

Rock Climbing at Parangndog Beach Yogyakrta

.

Street of Pegunungan Kidul Dlingo Yogyakarta

.

Spent the afternoon at the Sepanjang Beach Yogyakarta

.

Chatting with beautiful beaches Sundak Yogyakarta

.

Nature in the Forest Hills Community Kalibiru Menoreh Kulonprogo Yogyakarta

readbud - get paid to read and rate articles

12 Desember 2011

Sampai Kapan Idealisme Akan Bertahan?

Ketika menjadi mahasiswa, banyak dari kita yang tak segan-segan bersuara lantang terhadap siapa saja yang melakukan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), dengan turun ke jalan, meneriakkan yel-yel anti-KKN, mengusung perjuangan rakyat, dan membela kebenaran. Kemudian membentuk kelompok anti-KKN bersama aktivis-aktivis lainnya agar barisan perjuangan semakin kuat. Mengatasnamakan rakyat sebagai korban KKN dan mengedepankan reformasi sebagai arah perjuangan bagi perubahan secara total agar visi dan misi sebagai agent of change terwujud. 

Namun, seiring dengan perkembangan gerakan dan perjuangan mahasiswa sekarang, apakah sudah terwujud perjuangan itu secara total? Lengsernya Soeharto dari jabatan presiden pada Mei 1998, bukan akhir gerakan mahasiswa, karena penyakit KKN kini bukan hanya dilingkungan pemerintah saja tapi sudah menjadi budaya sebagian masyarakat kita di mana pun. Praktik korupsi di lingkungan Pemda dan DPRD juga di instansi lain yang akhir-akhir ini menjadi berita di sebagian besar koran dan majalah adalah potret buram wakil rakyat kita. 

Lalu, bagaimana gambaran di atas bila dihubungkan dengan banyaknya jumlah pendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) beberapa waktu lalu? Banyak lulusan perguruan tinggi memimpikan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan alasan akan mendapat kehidupan yang lebih baik. Setiap bulan menerima gaji, kerja dengan duduk santai dan irama kehidupan semakin terarah. Padahal menjadi PNS di lingkungan pemeritahan pusat dan daerah sangat rawan KKN. Lalu, di manakah idealisme mereka, yang ketika menjadi mahasiswa (aktivis) kritis terhadap pemerintah? Mereka dulu mengkritk habis-habisan dengan demo turun ke jalan atau lewat media dan tulisan, dengan tujuan utama pemberantasan KKN. 

Idealisme, menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Kata patokan yang dianggap sempurna bisa kita kaji lebih dalam lagi. Patokan tersebut harus sesuai dengan perkembangan zaman. Ketika waktu kuliah, melihat sosok PNS yang kerjanya hanya duduk santai sambil ngobrol ngalor ngidul adalah sesuatu hal yang menjengkelkan. Namun bagaimana bila realita menakdirkan mahasiswa tersebut menjadi PNS. Motivasi sebagian besar lulusan perguruan tinggi mengikuti pendaftaran CPNS bukan sekedar coba-coba, tapi karena kebutuhan. Mereka tidak lagi memikirkan idealisme saat kuliah, atau gambaran umum buruknya birokrasi di pemerintahan pusat dan daerah yang rawan praktik KKN, atau bayangan akan dikritk dan didemo oleh adik-adik mereka yang masih duduk di bangku kuliah. Yang ada dalam benak, sedapat mungkin lulus ujian CPNS dan siap menjadi seorang PNS dengan harapan hidup terjamin. 

Melacurkan Idealisme 

Sebagai mahasiswa, kita semua sudah mengetahui akan adanya jalur khusus, sebuah terobosan baru untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) tanpa ada hambatan akademis, yang penting punya uang. Dampak yang terjadi di masyarakat, muncul pandangan bahwa dengan banyak uang keinginan apa saja bisa terwujud. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah kaum birokrat kampus juga melacurkan idealisme ketika kebutuhan untuk pengembangan pendidikan begitu mendesak karena subsidi dari pemerintah sudah tidak bisa diandalkan lagi? Sudah sangat jelas perbedaan pengertian idealisme menurut hati nurani dengan yang terjadi di masyarakat atau realita yang sebenarnya. Melacurkan idealisme untuk menjadi PNS bukanlah hal yang salah untuk dilakukan. Kata "lacur" di sini konteksnya bukan menjual idealisme, tapi memanfaatkan idealisme. 

Memanfaatkan sesuatu yang ada tanpa menjual yang ada, berusaha menjadikan yang ada sebagai kesempatan yang harus diambil. Ketika kita dihadapkan pada kebutuhan dan realita yang terjadi di masyarakat serta pertimbangan ekonomi, maka melacurkan idealisme adalah hal yang dianggap sah. Begitu juga dengan birokrat kampus, ketika dibutuhkan pembangunan gedung-gedung kuliah serta fasilitas belajar mengajar, maka kemana lagi mereka harus mencari selain memanfaatkan orang kaya untuk menyisihkan sebagian harta bagi kegiatan pendidikan. Idealisme memang penting bagi kehidupan semua orang. Prinsip dan pedoman serta arah kehidupan seseorang, yang terangkum dalam sebuah kata "idealisme" sangat beragam makna. Hal ini bukan berarti terjadi peregeseran makna idealisme, namun yang terjadi adalah bagaimana kita memaknai kata idealisme sesuai dengan keinginan. Tidak selamanya orang mempunyai idealisme dengan satu pengertian. Maksudnya, ketika pilihan menjadi pilihan utama, di situlah idealisme harus bergerak dan berubah sesuai dengan kebutuhan. []

17 November 2011

Menyambut Masa Depan di Solo Technopark (STP), Solo

"Selamat datang calon peserta program inkubasi bisnis dan teknologi." Kalimat tersebut tertera di spanduk yang terpasang di kanopi, menyambut siapa saja yang memasuki Gedung Solo Technopark (STP) yang berada di Jalan Ki Hajar Dewantara Pedaringan Jebres Solo. Saya kemudian menyusuri gedung yang sebagian masih dalam proses pembangunan tersebut, tampak para peserta didik berseragam biru tua sedang sibuk dengan mesin bubut, las, milling dan lain sebagainya. Di tempat inilah, para calon mekanik yang handal dan siap saing dalam pasar industri digembleng.
STP lahir atas kerjasama Pemkot Solo, Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) dan Indonesian German Institute (IGI), merupakan pengembangan dari Surakarta Competency and Technology Center (SCTC) yang berdiri tahun 2002. Lembaga diklat ini kemudian menjadi unit kerja dibawah Bappeda Kota Solo yang dibentuk berdasarkan Keputusan Walikota No 900/65/1/2009 tanggal 31 Desember 2009. 


Ada tiga tahap diklat yang harus dilalui peserta di tempat tersebut, yaitu tahap pengetahuan dasar mekanik (basic mechanic), tahap program lanjutan (applied program) dan magang kerja (work study). Masing-masing dari tahapan tersebut memerlukan waktu tiga bulan, sehingga total masa diklat selama sembilan bulan. Bagi peserta yang lulus di masing-masing tahap, dengan nilai minimal 5,51 maka akan diberikan sertifikat berstandar industri ATMI Solo. Demikian disampaikan Marketing STP, Sutrisno, saat saya temui dikantornya, Senin (30/8). 


Sutrisno menjelaskan, pada tahap dasar peserta akan mendapat training seputar manufacture mechanic yang meliputi kerja bangku (benchwork), peralatan gerinda (tool grinding), mesin bubut (turning basic skill), mesin frais/milling (milling basic skill) dan mesin las (welding basic skill). Setelah lulus pada tahap dasar mekanik, peserta bisa melanjutkan ke program lanjutan untuk implementasi. 

Program ini dibagi menjadi tiga, yaitu applied program mechanic bertempat di kampus ATMI Solo, applied program welded dan applied program mechanic garmen di gedung Solo Technopark. Selanjutnya peserta menjalani tahap magang kerja industri sebagai persiapan dan menunggu penempatan kerja atau peserta juga bisa mencari tempat kerja sendiri. Untuk masalah penempatan kerja, lanjut Sutrisno, STP telah menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan di Solo, Boyolali, Klaten dan daerah lain, bahkan ada beberapa alumni STP yang bekerja di perusahaan di Jakarta. 


gambar: Peserta didik mengelap Mobil SMK 

Bagaimana dengan persyaratan masuk dan biaya selama diklat? Front Office STP, Ambrosius Agus Triyanto menjelaskan, secara umum lembaga diklat tempatnya bekerja menerima peserta didik laki-laki atau perempuan yang berijazah SMK atau sederajat. Berbadan sehat yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter, dan yang terpenting lolos seleksi masuk yang terdiri dari test tertulis dan wawancara. Sedangkan untuk biaya selama sembilan bulan masa diklat sebesar Rp 6.750.000, dan biaya seragam dan perlengkapan bengkel sebesar Rp 175.000.

“Biaya tersebut bisa diangsur sampai tiga kali”, terangnya. Mengenai waktu pendaftaran, STP membuka empat gelombang, yakni setiap awal bulan Januari, April, Juli dan Oktober tiap tahunnya. “Calon peserta diklat bisa mendaftar langsung ke kantor (STP) tiap hari dan jam kerja,” pungkas Agus. []